Skip to content

Refreshing Manajemen Resiko

February 16, 2012

Konsep

Pada dasarnya setiap kegiatan/ kejadian selalu terdapat resiko di dalamnya. Baik kecil maupun besar, sering terjadi ataupun jarang. Resiko dari mengemudi kendaraan adalah kecelakaan, ban bocor, macet di jalan, dsb.  Kegiatan/ peristiwa berbeda menghasilakan resiko yang berbeda pula. Oleh karena itu, resiko setiap kejadian perlu diketahui dan kalau bisa dicegah agar tidak terjadi, dan kalaupun tidak bisa maka dilakukan upaya agar resiko kejadian mengakibatkan dampak yang paling kecil.

 

Pandangan Lama Tentang Resiko:

¨  Asuransikan semua

¨  Reaktif bukannya proaktif

¨  Jangan pedulikan biaya, kita punya banyak uang

¨  Tidak peduli

 

Definisi Resiko

Resiko didefinisikan sebagai suatu situasi, kejadian yang  apabila terjadi akan membuat sebuah institusi tidak dapat mencapai tujuannya, baik tujuan finansial ataupun non-finasial. Adapun Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut :

  1. 1.         Risk is the chance of loss (Risiko adalah peluang terjadinya kerugian).
  2. 2.         Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).
  3. 3.         Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).
  4. 4.         Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan sebaran hasil aktual dibandingkan dengan hasil yang diharapkan).
  5. 5.         Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko adalah kemungkinan sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan).

 

Jenis Resiko

Berdasarkan ruang lingkupnya resiko dibedakan menjadi dua jenis, yaitu Public Risk (Risiko Publik) dan Corporate Risk (Risiko Korporat).

 

  1. Public Risk (Risiko Publik)

Risiko yang mempengaruhi kemampuan Pemerintah dalam melakukan Public Service. Risiko ini mencakup Fiscal Risk (Risiko Fiskal) & Contingent Liabilities (Kewajiban kontinjen).

 

Risiko fiskal adalah suatu ketidakpastian keadaan atau kejadian tertentu yang mempunyai dampak pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Secara umum, Pemerintah dihadapkan pada empat jenis risiko fiskal yang merupakan kombinasi dari empat karakteristik berikut,

  1. explicit
  2. implicit
  3. direct
  4. contigent.

Unsur explicit dan implicit merupakan unsur-unsur yang menjadi dasar timbulnya kewajiban pemerintah, yaitu apakah berupa peraturan atau perjanjian yang tersurat, ataukah hanya berupa kewajiban moral yang tidak tersurat. Sedangkan unsur direct dan contigent merupakan gambaran tingkat kepastian timbulnya kewajiban pemerintah.

Contingent Liabilities didefinisikan sebagai biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah jika terjadi peristiwa atau kejadian tertentu.

Matriks Resiko Fiskal Pemerintah

Source of Obligations

Kewajiban langsung

Kewajiban kontinjen

Eksplisit:

Kewajiban Pemerintah yang tercantum dalam kontrak

v  HUTANG LUAR NEGERI (PINJAMAN YANG DIKONTRAKAN DAN SEKURITI YANG DIKELUARKAN PEMERINTAH PUSAT),

v   KOMPOSISI PENGELUARAN (PENGELUARAN TIDAK TERIKAT),

v   PENGELUARAN YANG SECARA RESMI TERIKAT DALAM JANGKA PANJANG (GAJI DAN PENSIUN PNS),

  • JAMINAN NEGARA UNTUK PINJAMAN DALAM NEGERI DAN KEWAJIBAN PEMERINTAH DAERAH LAIN SERTA INSTITUSI SEKTOR SWASTA DAN PUBLIK,
  • JAMINAN NEGARA UNTUK BERBAGAI JENIS PINJAMAN,
  •  JAMINAN NILAI TUKAR DAN PERDAGANGAN YANG DIKELUARKAN OLEH NEGARA,
  • JAMINAN NEGARA TERHADAP INVESTASI SWASTA,
  • SKEMA ASURANSI NEGARA.

Implisit:

Kewajiban moral Pemerintah

v  PENSIUN PUBLIK YANG AKAN DATANG,

v   SKEMA JAMINAN SOSIAL,

v   PEMBIAYAAN PERAWATAN KESEHATAN DI MASA MENDATANG,

v   BIAYA-BIAYA RUTIN PROYEK INVESTASI PUBLIK DI MASA MENDATANG

  • KEGAGALAN PEMERINTAH DAERAH ATAU INSTITUSI SWASTA/PUBLIK TERHADAP HUTANG/KEWAJIBAN NONJAMINAN,
  • KEGAGALAN PERBANKAN,
  • PENGHAPUSAN LIABILITI DARI INSTITUSI YANG SEDANG DIPRIVATISASI,
  • KEGAGALAN DANA PENSIUN NONGARANSI, DANA LAPANGAN KERJA, DAN DANA JAMINAN SOSIAL,

 

  1. Corporate Risk (Risiko Korporat)

Resiko korporat adalah fluktuasi dari eksposur korporat sebagai akibat keputusan atau kondisi saat ini. Besaran resiko korporat terkait dengan ketidakpastian dari nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. Bagi perusahaan yang go public, resiko korporat dapat diukur dari fluktuasi harga saham. (Bramantyo Djohanputro, 2008). Dan dalam tulisan ini, akan difokuskan pembahasannya terkait resiko korporat.

 

Klasifikasi Risiko Korporat

Risiko perusahaan dapat dikategorikan ke dalam empat jenis resiko, yaitu:

  1. Risiko keuangan,
  2. Risiko operasional,
  3. Risiko strategis, dan
  4. Resiko eksternalitas.

Klasifikasi resiko korporat dapat dilihat pada grafik berikut ini :

  1. 1.   Risiko Keuangan

Risiko keuangan adalah fluktuasi target keuangan atau ukuran moneter perusahaan karena gejolak berbagai variable makro. Risiko keuangan diklasifikasikan lagi menjadi empat, yakni :

  1. Risiko Likuiditas

Risiko likuiditas adalah ketidakpastian atau kemungkinan perusahaan tidak dapat memenuhi kewajiban pembayaran jangka pendek atau pengeluaran tidak terduga. Risiko likuiditas dapat juga didefinisikan sebagai kemungkinan penjualan suatu asset perusahaan dengan diskon yang tinggi karena sulitnya mencari pembeli.

  1. Risiko Kredit

Risiko kredit adalah risiko bahwa debitur atau pembeli secara kredit tidak dapat membayar utang dan memenuhi kewajiban seperti tertuang dalam kesepakatan.

  1. Risiko Permodalan

Risiko permodalan disebut juga risiko solvensi, yaitu risiko yang dihadapi perusahaan berupa kemungkinan tidak dapat menutup kerugian. Risiko permodalan dapat dilihat dari risiko antara pinjaman dan ekuitas.

  1. Risiko Pasar

Risiko pasar berkaitan dengan potensi penyimpangan hasil keuangan karena pergerakan variable pasar selama periode likuidasi dan perusahaan harus secara rutin melakukan penyesuaian nilai terhadap pasar.

 

Risiko pasar biasanya dikelompokkan menjadi empat jenis :

1)       Risiko Suku Bunga

Adalah risiko yang berdampak pada potensi penyimpangan beban biaya atau pendapatan karena fluktuasi suku bunga.

2)       Risiko Nilai Tukar

Adalah potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan karena fluktuasi nilai tukar. Biasanya risiko nilai tukar dikaitkan dengan potensi penyimpangan pada transaksi atau arus kas, laba akuntansi dan penyimpangan nilai perusahaan atau kekayaan pemegang saham.

3)       Risiko Komoditas

Adalah potensi penyimpangan ekspektasi pembayaran rupiah karena perusahaan melakukan transaksi komoditas secara forward. Transaksi forward adalah transaksi yang disepakati saat ini mengenai jumlah atau volume komoditas yang ditransaksikan, harga dan jatuh temponya dan eksekusi dilakukan saat jatuh tempo.

4)       Risiko Ekuitas

Adalah potensi penyimpangan hasil oleh karena berfluktuasinya harga atau indeks saham.

 

2. Risiko Operasional

Risiko operasional adalah potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan karena tidak berfungsinya suatu sistem, SDM, teknologi atau faktor lain. Risiko operasional dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu : Manusia (SDM), Teknologi, Sistem dan prosedur, Kebijakan, Struktur organisasi.

Risiko operasional terdiri dari :

  1. Risiko Produktivitas

Risiko Produktivitas adalah risiko produk kesalahan dalam aktivitas berkaitan dengan penyimpangan hasil atau tingkat produktivitas yang diharapkan karena adanya penyimpangan dari variable yang mempengaruhi prodiktivitas kerja.

  1. Risiko Teknologi

Risiko teknologi berupa potensi penyimpangan hasil karena teknologi yang digunakan tidak sesuai lagi dengan kondisi. Misalnya transaksi terhambat karena teknologi perusahaan dengan teknologi klien tidak compatible. Atau karena terjadinya perubahan kualitas dan spesifikasi bahan baku menyebabkan teknologi pengolahan saat ini tidak sesuai.

  1. Risiko Inovasi

Risiko inovasi adalah potensi penyimpangan hasil karena terjadinya pembaharuan, modernisasi, atau transformasi dalam proses produksi. Penyimpangan positif ( perbaikan kinerja) terjadi apabila inovasi tersebut membantu proses operasi. Sebaliknya, inovasi beberapa aspek dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan negative apabila perusahaan tidak segera melakukkan penyesuaian.

  1. Risiko Sistem

Risiko sistem merupakan potensi penyimpangan hasil karena adanya cacat atau ketidaksesuaian sistem dalam operasi perusahaan.

  1. Risiko Proses

Risiko proses adalah risiko mengenai potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan dari proses karena ada penyimpangan atau kesalahan dalam kombinasi sumber daya (SDM, keahlian, metode, peralatan, teknologi dan material) dan karena perubahan lingkungan.

 

3. Risiko Strategis

Risiko strategis adalah risiko yang dapat mempengaruhi eksposur korporat dan eksposur strategis (terutama eksposur keuangan) sebagai akibat keputusan strategis yang tidak sesuai dengan lingkungan eksternal dan internal usaha.

Risiko strategis dibagi menjadi:

  1. Risiko Usaha

Risiko usaha adalah potensi penyimpangan hasil korporat (nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham) dan hasil keuangan karena perusahaan memasuki suatu bisnis tertentu dan lingkungan industri yang khas dan menggunakan teknologi tertentu. Yang dimaksud sebagai hasil perusahaan disini adalah nilai perusahaan itu sendiri dan kekayaan pemegang saham (investor). Pengukuran risiko usaha dapat dilakukan diantaranya dengan mengukur rasio perubahan laba dengan perubahan penjualan (leverage operasi)

  1. Risiko Transaksi Stategis

Risiko transaksi strategis adalah potensi penyimpangan hasil korporat maupun strategis sebagai akibat perusahaan melakukan transaksi strategis. Transaksi yang dikategorikan sebagai transaksi strategis adalah transaksi yang berkaitan dengan restrukturisasi perusahaan.

 

Restrukturisasi dapat dilakukan terhadap :

1)        portofolio perusahaan (portofolio asset dan portofolio usaha);

2)        struktur modal (meliputi transaksi yang mengakibatkan perubahan jumlah modal, jenis modal, sumber modal dan komposisi modal); dan

3)        struktur manajemen dan organisasi.

Secara praktis transaksi strategis dapat berupa merger, akuisisi, investasi baru, divestasi, likuidasi dan yang lainnya.

  1. Risiko Hubungan Investor

Risiko hubungan investor adalah risiko yang berkaitan dengan potensi penyimpangan hasil dari eksposur korporat dan terutama eksposur keuangan karena ketidaksempurnaan dalam membina hubungan dengan investor, baik pemegang saham maupun kreditur.

 

4. Risiko Eksternalitas         

Risiko eksternalitas adalah potensi penyimpangan hasil pada eksposur korporat dan strategis dan dapat berdampak pada potensi penutupan usaha karena pengaruh dari faktor eksternal.

Faktor eksternal meliputi reputasi, lingkungan, sosial dan hukum.

  1. Risiko Reputasi

Risiko reputasi adalah potensi hilangnya atau hancurnya reputasi perusahaan karena penerimaan lingkungan eksternal yang rendah, bahkan dapat terjadi penolakan.

  1. Risiko Lingkungan

Risiko lingkungan adalah potensi penyimpangan hasil, bahkan potensi penutupan perusahaan karena ketidakmampuan perusahaan dalam mengelola polusi dan dampaknya yang ditimbulkan oleh perusahaan.

  1. Risiko Sosial

       Risiko sosial adalah potensi penyimpangan hasil karena tidak akrabnya perusahaan dengan lingkungan tempat perusahaan berada.

  1. Risiko Hukum

       Risiko hukum adalah kemungkinan penyimpangan hasil karena perusahaan tidak mematuhi peraturan dan norma yang berlaku.

 

Manajemen Resiko

Resiko sangat terkait sekali dengan ketidakpastian suatu kejadian. Oleh karena itu resiko perlu dikelola dengan baik atau dikenal dengan manajemen resiko. 

 

Manajemen Resiko dapat diartikan dengan proses pengukuran atau penilaian resiko serta pengembangan strategi pengelolaannya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan resiko kepada pihak lain, menghindari resiko, mengurangi efek negatif resiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi resiko tertentu.

 

Manajemen resiko tradisional terfokus pada resiko-resiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian serta tuntutan hukum).

 

Definisi dan Konsep Manajemen Risiko Menurut COSO &  AS/NZS Standard

Standar manajemen risiko yang dipakai di dunia: Standar Canada, Standar Inggris, Standar Australia / New Zealand AS/NZS 4360 : 2004 dan COSO Enterprise Risk Management. Dari sekian banyak standar manajemen risiko yang dikeluarkan oleh banyak negara dan lembaga tersebut, Standar Australia/New Zealand AS/NZS 4360 : 2004 dan COSO Enterprise Risk Management yang banyak diterima secara umum.

 

 

  1. AS/NZS Standard

Menurut AS/NZS 4360 : 2004, Manajemen Risiko adalah “the culture, processes and structures that are directed towards realizing potential opportunities whilst managing adverse effects. The risk management processes involves communicating, establishing context, identifying, analyzing, evaluating, treating, monitoring and reviewing risk

 

Komponen utama proses manajemen risiko, sebagaimana diperlihatkan pada gambar di atas, terdiri dari :

1.   Komunikasi dan konsultasi

Komunikasi dan konsultasi dengan stakeholder internal dan eksternal yang tepat pada setiap tahapan dari proses manajemen risiko dan proses secara keseluruhan.

2.   Penetapan konteks

Penetapan konteks eksternal, konteks internal dan konteks manajemen risiko dimana proses manajemen risiko akan diterapkan. Kriteria yang digunakan pada saat risiko akan dievaluasi harus disusun dan struktur analisis didefinisikan.

3.   Identifikasi risiko

Identifikasi dimana, kapan, mengapa dan bagaimana peristiwa dapat mencegah, menurunkan, menunda atau meningkatkan pencapaian tujuan.

4.   Analisis risiko

Identifikasi dan evaluasi pengendalian yang ada. Menentukan konsekuensi dan kemungkinan serta level risiko. Analisis ini harus mempertimbangkan kisaran konsekuensi potensial dan bagaimana risiko dapat terjadi.

5.   Evaluasi risiko

Membandingkan estimasi level risiko dengan kriteria yang telah disusun lebih dahulu dan mempertimbangkan keseimbangan antara manfaat potensial dan hasil yang tidak menguntungkan. Hasilnya berupa keputusan untuk menentukan luas dan sifat perlakuan risiko yang diperlukan dan menentukan prioritas risiko.

6.   Perlakuan risiko

Mengembangkan dan melaksanakan strategi tertentu yang efektif dan efisien serta rencana aksi untuk meningkatkan manfaat potensial dan mengurangi biaya potensial.

7.   Monitor dan reviu

Penting untuk memonitor efektivitas seluruh tahapan proses manajemen risiko. Hal ini penting untuk perbaikan berkelanjutan. Risiko dan efektivitas perlakuan risiko perlu dimonitor untuk meyakinkan bahwa perubahan situasi tidak mengubah prioritas risiko.

 

  1. 2.        COSO Enterprise Risk Management

Menurut COSO ERM, risk management (manajemen resiko) dapat diartikan sebagai “a process, effected by an entity’s board of directors, management and other personnel, applied in strategy setting and across the enterprise, designed to identify potential events that may affect the entity, manage risk to be within its risk appetite, and provide reasonable assurance regarding the achievement of entity objectives.” Definisi risk management di atas dapat dijabarkan lebih lanjut berdasarkan kata-kata kunci sebagai berikut:

  1. On going process

Risk management dilaksanakan secara terus menerus dan dimonitor secara berkala. Risk management bukanlah suatu kegiatan yang dilakukan sesekali (one time event).

  1. Effected by people

Risk management ditentukan oleh pihak-pihak yang berada di lingkungan organisasi. Untuk lingkungan institusi Pemerintah, risk management dirumuskan oleh pimpinan dan pegawai institusi/departemen yang bersangkutan

  1. Applied in strategy setting

Risk management telah disusun sejak dari perumusan strategi organisasi oleh manajemen puncak organisasi. Dengan penggunaan risk management, strategi yang disiapkan disesuaikan dengan risiko yang dihadapi oleh masing-masing bagian/unit dari organisasi.

  1. Applied across the enterprise

Strategi yang telah dipilih berdasarkan risk management diaplikasikan dalam kegiatan operasional, dan mencakup seluruh bagian/unit pada organisasi. Mengingat risiko masing-masing bagian berbeda, maka penerapan risk management berdasarkan penentuan risiko oleh masing-masing bagian.

  1. Designed to identify potential events

Risk management dirancang untuk mengidentifikasi kejadian atau keadaan yang secara potensial menyebabkan terganggunya pencapaian tujuan organisasi.

  1. Provide reasonable assurance

Risiko yang dikelola dengan tepat dan wajar akan menyediakan jaminan bahwa kegiatan dan pelayanan oleh organisasi dapat berlangsung secara optimal.

  1. g.       Geared to achieve objectives

Risk management diharapkan dapat menjadi pedoman bagi organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

 

 

Komponen utama dari proses manajemen risiko, sebagaimana diperlihatkan pada bagan diatas, terdiri dari :

  1. Lingkungan Internal

Lingkungan internal mencakup warna di dalam suatu organisasi, dan membentuk dasar bagaimana risiko dipandang dan diperhatikan oleh orang-orang dalam entitas, meliputi filosofi manajemen risiko, appetite risikonya, integritas dan nilai etika, dan lingkungan dimana mereka beroperasi.

  1. Penentuan Tujuan

Tujuan-tujuan harus ada sebelum manajemen dapat mengidentifikasi peristiwa-peristiwa yang secara potensial mempengaruhi pencapaiannya. Manajemen risiko perusahaan menjamin bahwa manajemen memiliki suatu proses yang berfungsi untuk menentukan tujuan-tujuan dan bahwa tujuan-tujuan yang dipilih mendukung dan selaras dengan misi atau visi entitas dan konsisten dengan hasrat risiko entitas.

  1. Identifikasi Peristiwa

Peristiwa internal dan eksternal yang mempengaruhi pencapaian tujuan entitas harus diidentifikasi, dibedakan antara risiko dan peluang.

  1. Penaksiran Risiko

Risiko dianalisis, dengan mempertimbangkan kemungkinan dan dampaknya, sebagai dasar untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola. Risiko ditaksir berdasarkan risiko inheren dan risiko residual.

  1. Respon Risiko

Manajemen memilih respon risiko – menghindari, menerima, mengurangi, atau berbagi risiko – mengembangkan sekumpulan tindakan untuk menyelaraskan risiko dengan appetite risiko dan toleransi risiko entitas.

  1. Aktivitas Pengendalian

Kebijakan dan prosedur disusun dan dilaksanakan untuk membantu meyakinkan respon risiko berjalan secara efektif.

  1. Informasi dan Komunikasi

Informasi yang relevan diidentifikasi, diperoleh, dan dikomunikasikan dalam suatu bentuk dan kerangka waktu sehinga orang-orang mampu melaksanakan tanggung jawabnya. Komunikasi yang efektif juga ada dalam banyak hal, dari atas ke bawah, ke samping, dan dari bawah ke atas entitas.

  1. Pemantauan

Manajemen risiko badan usaha secara keseluruhan dipantau dan perubahan dibuat jika diperlukan. Pemantauan dilakukan melalui aktivitas berjalan manajemen, evaluasi terpisah, atau keduanya.

Siklus Manajemen Resiko

Dalam siklus manajemen resiko ada lima tahapan, yaitu

¨  Identifikasi Resiko (Risk Identification)

Proses ini meliputi identifikasi resiko yang mungkin terjadi dalam suatu aktivitas usaha. Identifikasi resiko secara akurat dan komplit sangatlah vital dalam manajemen resiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi resiko adalah mendaftar resiko yang mungkin terjadi sebanyak mungkin.

 

Identifikasi ini bisa meliputi:

  1. Tempat (dimana resiiko terjadi),
  2. Kejadian (apa saja kejadian yang bisa terjadi),
  3. Penyebab (mengapa sampai terjadi).

 

Proses penemuan Resiko:

  • General Place:  Pendekatan >> Proses Kerja >> Aktivitas Vital
  • Specific Place:

–      Barang  (Rusak, Hilang, Tidak sesuai, Usang, Tidak Berkualitas)

–      Orang (Sakit, Cedera, Meninggal, Keluar, Mogok, Demo).

–      Uang (Tidak Sengaja Hilang, Sengaja Dicuri, Sengaja Diselewengkan, tak Tertagih)

–      Prosedur (Salah, Usang)

–       

Penyebab Resiko:

  1. M anusia
  2. A lam
  3. T eknologi
  4. A turan
  5. P asar

Pernyataan Risiko

      Merupakan kemungkinan atas suatu kejadian,

      Kejadian tersebut merugikan,

      Kejadian tersebut terjadi pada BOUP, dan

      Ada penyebabnya.

 

Contoh:  “Produktivitas Menurun”

1. Apakah ini merupakan suatu kemungkinan kejadian? …..

2. Apakah ini kejadian yang merugikan? …..

3. Apakah kejadian tersebut terjadi pada BOUP? …..

4. Apakah ada pernyataan penyebabnya? …..

 

Pernyataan resiko yang Benar :

“Produktifitas kerja karyawan menurun akibat kondisi kerja yang buruk.”

 

¨  Penilaian Resiko (Risk Assessment)

Setelah melakukan identifikasi resiko, maka tahap berikutnya adalah pengukuran resiko dengan cara melihat potensial terjadinya seberapa besar severity (kerusakan) dan probabilitas terjadinya risiko tersebut.

 

Probabilitas terjadinya resiko sering disebut dengan risk likelihood; sedangkan dampak yang akan terjadi jika resiko tersebut terjadi dikenal dengan risk impact dan tingkat kepentingan resiko disebut dengan risk value atau risk exposure.

Risk value dapat dihitung dengan formula :  Risk Exposure = Risk Likelihood    x   Risk Impact

Setelah mengetahui probabilitas dan dampak dari suatu resiko, maka kita dapat mengetahui potensi suatu resiko. Untuk mengukur bobot resiko kita dapat menggunakan skala dari 1 – 5 sebagai berikut seperti yang disarankan oleh JISC InfoNet:

Skala

Probabilitas

Dampak

Sangat rendah

Hampir tidak mungkin terjadi

Dampak kecil

Rendah

Kadang terjadi

Dampak kecill pada biaya, waktu dan kualitas

Sedang

Mungkin tidak terjadi

Dampak sedang pada biaya, waktu dan kualitas

Tinggi

Sangat mungkin terjadi

Dampak substansial pada biaya, waktu dan kualitas

Sangat tinggi

Hampir pasti terjadi

Mengancam kesuksesan proyek

 

¨  Alokasi Resiko (Risk Allocation)

Setelah resiko dinilai kita dapat mengalokasikan resiko berdasarkan peta resiko. Sebuah resiko dapat dipetakan dari dua sisi, yaitu dari tingkat kemungkinan sebuah resiko tersebut  terjadi dan dampak yang ditimbulkan oleh resiko tersebut.

 

Berdasarkan dua hal tersebut resiko dapat digolongkan ke dalam empat kuadran yang digambarkan grafik sebagai berikut:

       
 

Consequence/ Impact

 

 

     
 

 

Kuadran 2

Medium Risk

Kuadran 1

High Risk

Kuadran 3

Low Risk

Kuadran 4

Medium Risk

Likelihood

 

 

Kuadran 1 : kemungkinan resiko terjadi tinggi dan dampaknya besar

Kuadran 2 :  kemungkinan resiko terjadi rendah dan dampaknya besar

Kuadran 3 : kemungkinan resiko terjadi rendah dan dampaknya kecil

Kuadran 4 : kemungkinan resiko terjadi tinggi dan dampaknya kecil

 

¨  Penanganan Resiko (Risk Mitigation)

Kerangka Pengelolaan Resiko:

Ekspected risks dan unexpected risk dikelola dengan cara yang berbeda:

¨  Expected risk: dalam perencanaan

¨  Unexpceted risk: pengelolaan risiko

Contoh:

Expected risk:

¨  Oleh karena bulan April masih terjadi hujan, pembangunan jalan sepanjang 10 km bisa tertunda karena kondisi cuaca yang kurang baik. Pengangkutan bisa terhambat karena kondisi transportasi yang kurang baik dan proses pengerjaan juga terganggu. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, keterlambatan bisa mencapai 10% dari waktu yang diperkirakan dengan keyakinan 95%.

¨  Tindakan: Dalam perencanaan

Unexpected risk:

¨  Namun karena sedang terjadinya perubahan pola cuaca, ada kemungkinan keterlambatan lebih dari 10% waktu yang direncanakan.

¨  Tindakan: pengendalian risiko

 

Jenis-jenis cara mengelola resiko :

  1. Risk Avoidance

Yaitu memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas yang mengandung resiko sama sekali. Dalam memutuskan untuk melakukannya, maka harus dipertimbangkan potensial keuntungan dan potensial kerugian yang dihasilkan oleh suatu aktivitas.

  1. Risk Reduction

Risk reduction atau disebut juga risk mitigation yaitu merupakan metode yang mengurangi kemungkinan terjadinya suatu resiko ataupun mengurangi dampak kerusakan yang dihasilkan oleh suatu resiko.

  1. Risk Transfer

Yaitu memindahkan resiko pada pihak lain, umumnya melalui suatu kontrak (asuransi) maupun hedging.

  1. Risk Deferral

Dampak suatu resiko tidak selalu konstan. Risk deferral meliputi menunda aspek suatu proyek hingga saat dimana probabilitas terjadinya resiko tersebut kecil.

  1. Risk Retention

Walaupun resiko tertentu dapat dihilangkan dengan cara mengurangi maupun mentransfernya, namun beberapa resiko harus tetap diterima sebagai bagian penting dari aktivitas.

 

Penanganan resiko:

  1. High probability, high impact: resiko jenis ini umumnya dihindari ataupun ditransfer.
  2. Low probability, high impact: respon paling tepat untuk tipe resiko ini adalah dihindari. Dan jika masih terjadi, maka lakukan mitigasi resiko serta kembangkan contingency plan.
  3. High probability, low impact: mitigasi resiko dan kembangkan contingency plan.
  4. Low probability, low impact: efek dari resiko ini dapat dikurangi, namun biayanya dapat saja melebihi dampak yang dihasilkan. Dalam kasus ini mungkin lebih baik untuk menerima efek dari resiko tersebut.

 

 

 

¨  Pengawasan dan Reviu Resiko (Risk Monitoring and Review)

Mengidentifikasi, menganalisa dan merencanakan suatu resiko merupakan bagian penting dalam perencanaan suatu proyek. Namun, manajemen resiko tidaklah berhenti sampai disana saja. Praktek, pengalaman dan terjadinya kerugian akan membutuhkan suatu perubahan dalam rencana dan keputusan mengenai penanganan suatu resiko. Sangatlah penting untuk selalu memonitor proses dari awal mulai dari identifikasi resiko dan pengukuran resiko untuk mengetahui keefektifitas respon yang telah dipilih dan untuk mengidentifikasi adanya resiko yang baru maupun berubah. Sehingga, ketika suatu resiko terjadi maka respon yang dipilih akan sesuai dan diimplementasikan secara efektif.

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: