Skip to content

Manajemen Keuangan

February 16, 2012

Tujuan manajemen keuangan melihat pada tujuan perusahaan, yaitu :

  • Memaksimumkan laba
  •  Memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham

10 (SEPULUH) AKSIOMA SEBAGAI DASAR MANAJEMEN KEUANGAN

Principle 1: The risk-return tradeoff – we won’t take additional risk unless we expect to be compensated with additional return.

Principle 2: The time value of money – a dollar received today is worth more than a dollar received in the future.

Principle 3: Cash — Not Profits — is King. In measuring value we will use cash flows rather than accounting profits because it is only cash flows that the firm receives and is able to reinvest.

Principle 4: Incremental cash flows – it’s only what changes that counts. In making business decisions we will only concern ourselves with what happens as a result of that decision.

Principle 5: The curse of competitive markets – why it’s hard to find exceptionally profitable projects. In competitive markets, extremely large profits cannot exist for very long because of competition moving in to exploit those large profits. As a result, profitable projects can only be found if the market is made less competitive, either through product differentiation or by achieving a cost advantage.

Principle 6: Efficient Capital Markets – The markets are quick and the prices are right.

Principle 7: The agency problem – managers won’t work for the owners unless it’s in their best interest. The agency problem is a result of the separation between the decision makers and the owners of the firm. As a result managers may make decisions that are not in line with the goal of maximization of shareholder wealth.

Principle 8: Taxes bias business decisions.

Principle 9: All risk is not equal since some risk can be diversified away and some cannot.  The process of diversification can reduce risk, and as a result, measuring a project’s or an asset’s risk is very difficult.

Principle 10: Ethical behavior is doing the right thing, and ethical dilemmas are everywhere in finance. Ethical behavior is important in financial management, just as it is important in everything we do.  Unfortunately, precisely how we define what is and what is not ethical behavior is sometimes difficult.  Nevertheless, we should not give up the quest.

 

ANALISIS RASIO KEUANGAN

LIKUIDITAS PERUSAHAAN

Rasio lancar (quick ratio)

 

Rasio cepat (acid test ratio)

 

Periode penagihan rata-rata (average collection period)

 

Perputaran piutang dagang (accounts receivable turnover)

 

Perputaran persediaan (inventory turnover)

 

PROFITABILITAS OPERASI

Tingkat pengembalian investasi atas pendapatan operasi (OIROI)

 

Marjin laba operasi (operating profit margin)

 

Perputaran total aktiva

 

Perputaran piutang dagang (accounts receivable turnover)

 

Perputaran persediaan (inventory turnover)

 

Perputaran aktiva tetap

 

KEPUTUSAN PENDANAAN

Rasio hutang

 

Rasio laba terhadap beban bunga

 

PENGEMBALIAN EKUITAS PEMEGANG SAHAM

Tingkat pengembalian ekuitas (ROE)

 

                                                                                                                                                                                                                     

MATEMATIKA KEUANGAN

Menghitung bunga majemuk

FVn=PV(1+i)n atau bisa ditulis dengan FVn=PV(FVIFi,n[A1] )

Dengan   FVn = nilai masa depan investasi di akhir n tahun

                   n  = jumlah tahun

                   i = tingkat suku bunga (diskonto) tahunan

                   PV = nilai sekarang atau jumlah investasi mula-mula di awal tahun pertama

 Menghitung nilai sekarang

PV =FVn  atau bisa ditulis dengan PV=FVn(PVIFi,n)[A2] 

Dengan PV = nilai sekarang jumlah uang di masa depan

                   FVn= nilai masa depan investasi di akhir tahun ke-n

                   n = jumlah tahun hingga pembayaran diterima

   i = tingkat diskonto (bunga) tahunan

Anuitas

Anuitas adalah serangkaian pembayaran yang sama untuk jumlah tahun tertentu.

Ada 2 tipe dasar anuitas yaitu:

  1. 1.         anuitas biasa= pembayaran diasumsikan terjadi tiap akhir periode.

Umumnya istilah anuitas mengacu pada anuitas biasa ini. Yang perlu diketahui dari anuitas biasa ini :

  1. a.      Anuitas majemuk (compound annuities), menyimpan uang atau menginvestasikan sejumlah uang yang sama setiap akhir tahun untuk suatu jumlah tahun tertentu dan membiarkannya berkembang. Contohnya nabung untuk pendidikan. Untuk mengetahui berapa nilai di akhir tahun ke-n maka rumusnya:

                   FVn=PMT ( )[A3] 

Dengan FVn= nilai masa depan anuitas di akhir tahun ke-n

                                PMT = pembayaran anuitas yang disimpan atau dterima di akhir tiap tahun

                                i = tingkat bunga tahunan

                                n = jumlah tahun berlangsungnya anuitas

  1. b.      Nilai sekarang anuitas (Present value of annuity), pada dana pensiun, asuransi, dan bunga yang diterima dari obligasi melibatkan anuitas. Untuk membandingkannya kita perlu mengetahui nilai sekarangnya dengan rumus:

PV=PMT( )[A4] 

                   Dengan PV= nilai sekarang anuitas di masa depan

                                PMT = pembayaran anuitas

                                i = tingkat bunga tahunan

                                n = jumlah tahun di mana anuitas berlangsung

  1. 2.         anuitas jatuh tempo (annuities due)
  2. a.      jumlah majemuk anuitas jatuh tempo dinyatakan dengan rumus

FVn = PMT(FVIFAi,n) (1+i)  atau FVn=PMT ( ) (1+i)

  1. b.      nilai sekarang anuitas jatuh tempo dinyatakan dalam rumus

PV=PMT(PVIFAi,n)(1+i) atau PV=PMT( )

VALUATION AND CHARACTERISTICS OF BONDS

JENIS-JENIS OBLIGASI:

  1. Debentures (Surat Utang)

Berlaku untuk semua utang jangka panjang yang tidak dijamin sehingga penilaian terhadap kemampuan menghasilkan laba dari perusahaan penerbit obligasi menjadi sangat  penting. Keuntungan dari penerbit obligasi adalah tidak perlu ada property yang dijaminkan oleh perusahaan tersebut. Hal ini mempertahankan kemampuan perusahaan tersebut untuk meminjam di masa yang akan dating.

  1. Subordinated Debentures (Surat Utang Subordinasi)

Banyak dari perusahaan memiliki lebih dari satu debentures yang belum dilunasi. Pada kasus demikian sejumlah surat utang dapat dibuat berjenjang di mana beberapa surat utang bisa dikatakan subordinat apabila ada ketidakmampuan membayar utang. Klaim dari surat utang subordinat tersebut dilakukan hanya jika klaim dari surat utang yang dijamin dan surat utang yang bukan subordinat telah dilunasi.

  1. Mortgage Bonds (Hipotek)

Obligasi yang dijamin oleh hak gadai atas tanah dan bangunan. Khususnya tanah dan bangunan yang bernilai lebih besar daripada obligasi yang dikeluarkan.

  1. Eurobonds (Obligasi Euro)

Tidak memiliki banyak perbedaan dengan jenis surat berharga lainnya. Obligasi ini adalah surat berharga obligasi yang dikeluarkan di Negara yang mata uangnya digunakan untuk menyatakan nilai obligasi. Obligasi tersebut tidak harus dikeluarkan di Eropa.

  1. Zero and Very Low Coupons Bonds (Obligasi Tanpa Bunga atau rendah nilai bunganya)

Obligasi ini berkupon nol dan sangat rendah nilai bunganya. Kerugian dari Obligasi jenis ini adalah perusahaan penerbit obligasi dapat mengeluarkan uang yang amat besar pada saat pelunasan dibandingkan pada saat menerima kas ketika obligasi dikeluarkan. Keuntungannya adalah:

  1. Tidak terjadi pengeluaran kas setiap tahun berkaitan dengan pembayar bunga dan tingkat tarifnya relatif rendah,
  2. Tingkat bunga obligasi jenis ini memiliki tingkat bunga yang lebih rendah dibanding obligasi jenis lainnya sehingga dapat mengamortisasi diskonto yang timbul untuk dapat mengurangi penghasilan kena pajak. Hal tersebut dapat menambah Positive Annual Cash Flow perusahaan.
  3. Junk Bonds (Obligasi Murah)

Obligasi Murah ini adalah obligasi yang memiliki resiko yang besar dengan peringkat yang dikeluarkan oleh Moody’s dan Standard & Poor’s berperingkat BB ke bawah. Obligasi jenis ini dilatarbelakangi oleh tidak mampunya perusahaan –perusahaan tersebut mencari sumber pendanaan. Obligasi jenis ini pun disebut sebagai High-Yield Bonds karena tingkat bunga yang tinggi berkisar antara 3-5 % di atas Obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan berperingkat AAA.

KARAKTERISTIK DAN TERMINOLOGI DALAM OBLIGASI

  1. Claims on Assets and Income (Klaim terhadap asset dan pendapatan perusahaan)

Urutan membayar atas klaim utang secara umum meliputi obligasi dilunasi sebelum saham biasa dan saham preferen. Obligasi juga memiliki klaim terhadap penghasilan yang akan datang atas saham biasa dan saham preferen. Badan Regulasi Obligasi dapat menggolongkan perusahaan tersebut sebagai perusahaan yang tidak mampu membayar utang dan mendorong kepada kebangkrutan.

  1. Par Value (Nilai Nominal)

Nilai yang teretera pada lembar obligasi yang akan dikembalikan pemegang obligasi pada saat jatuh tempo.

  1. Coupon Interest Rate (Tingkat Suku Bunga Kupon)

Menunjukkan besarnya persentase bunga terhadap nilai nominal obligasi yang akan dibayar tiap-tiap tahun atau periode sesuai dengan yang diatur di dalam lembar obligasi.

  1. Maturity (Periode Jatuh Tempo)

Menunjukkan lamanya waktu sampai penerbit obligasi mengembalikan nilai nominal obligasi ke pemegang obligasi dan berakhirnya obligasi ataupun penebusan obligasi tersebut.

  1. Indenture ( Surat perjanjian )

Kesepakatan Hukum antara perusahaan penerbit obligasi dan perwalian obligasi yang mewakili pemegang obligasi.

  1. Current Yield (Tingkat Penghasilan Sekarang)

Mengacu kepada perbandinagn pembayaran bunga tahunan pada harga obligasi sekarang di pasaran

  1. Bond Ratings (Peringkat Obligasi)

Peringkat Obligasi menjadi sangat penting untuk manajer keuangan sebagai indicator resiko kegagalan bayar dan tingkat pengembalian yang harus dibayar atas dana pinjaman. Pemeringkat Obligasi diantaranya yaitu : Moody, Standard & Poor, Fitch Investor.

 

 

DEFINISI NILAI

Penggunaan istilah nilai dapat berbeda-beda tergantung konteksnya, beberapa penggunaan istilah nilai  adalah sebagai berikut:

  1. 1.        Nilai Buku (Book Value)

Nilai buku adalah nilai yang ditunjukkan pada laporan neraca perusahaan.

  1. 2.        Nilai Likuidasi

Nilai likuidasi adalah sejumlah uang yang dapat direalisasikan jika asset dijual secara individual dan bukan sebagai bagian dari keseluruhan perusahaan.

  1. 3.        Harga Pasar

Harga pasar adalah nilai yang teramati atas asset yang ada di pasaran.

  1. 4.        Nilai Intrinsik

Nilai intrinsic atau nilai ekonomi adalah nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan.

FAKTOR PENENTU NILAI

Nilai sebuah asset adalah nilai intrinsic atau nilai sekarang atas tingkat pengembalian yang diinginkan di masa mendatang, di mana dengan arus kas ini didiskonto kembali ke nilai sekarang menggunakan tingkat pengembalian yang diinginkan investor. Pernyataan ini adalah benar untuk penilaian semua asset dan sejenisnya seperti hampir semua yang kita lakukan dalam keuangan.

Nilai dipengaruhi oleh tiga unsur :

  1. The Amount and timing of the asset’s expected cash flows (Besar dan pemilihan waktu penerimaan kas arus kas asset yang diharapkan )
  2. The Riskiness of these cash flows (Resiko dari penerimaan arus kas ini)
  3. The Investor’s required rate of return for undertaking investment (Tingkat pengembalian yang diinginkan investor untuk melakukan investasi)

 

PENILAIAN; PROSES DASAR

Proses penilaian adalah memberikan nilai kepada suatu asset dengan menghitung nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan di masa depan menggunakan tingkat pengembalian yang diinginkan investor sebagai tingkat diskontonya. Suatu model penilaian dapat digambarkan secara matematis sebagai berikut:

 

 

n

 

 

V

=

Ct

 

 

 

t=1

(1 + k)t

 

Keterangan :             Ct      =   arus kas yang diterima pada waktu t

                           V       =   nilai intrinsic atau nilai sekarang dari sebuah asset yang menghasilkan arus kas masa depan yang diinginkan, Ct pada tahun ke-1 sampai ke-n

                                           k       =   tingkat pengembalian yang diinginkan investor

PENILAIAN OBLIGASI

Nilai suatu obligasi adalah nilai sekarang dari bunga masa depan yang diterima dan nilai persamaan atau nilai jatuh tempo obligasi. Tiga elemen penting dalam penilaian obligasi:

  1. Pemilihan waktu dan jumlah dari arus kas yang akan diterima oleh investor
  2. Tanggal jatuh tempo obligasi
  3. Tingkat pengembalian yang diinginkan oleh investor

Berikut ini beberapa model penilaian obligasi secara matematis:

A.          Pada dasarnya nilai dari sebuah obligasi adalah Present value dari pembayaran bunga yang akan datang dan nilai diskonto dari nilai jatuh tempo pada imbal hasil yang diinginkan oleh pemegang surat obligasi

                              Vb            =            

It      = nilai rupiah bunga yang akan diterima setiap periode pembayaran

M     = Par value pada saat jatuh tempo

kb    = Imbal hasil yang diinginkan oleh bondholder

N      = jumlah periode menuju jatuh tempo

 

LIMA HUBUNGAN PENTING DALAM PENILAIAN OBLIGASI:

Hubunga pertama

Penurunan tingkat bunga (tingkat pengembalian yang diharapkan) akan menyebabkan nilai obligasi meningkat; suatu peningkatan tingkat bunga akan menyebabkan penurunan nilai. Perubahan dalam nilai disebabkan oleh perubahan tingkat bunga yang disebut dengan risiko tingkat suku bunga.

Hubungan kedua

Jika tingkat pengembalian yang diinginkan pemegang obligasi (tingkat suku bunga sekarang):

  1. Sama dengan tingkat suku bunga kupon, maka obligasi akan dijual pada nilai nominal atau nilai jatuh tempo.
  2. Bila melebihi kupon obligasi, obligasi akan dijual di bawah nilai nominal atau pada harga potongan.
  3. Jika kurang dari tingkat kupon obligasi, obligasi akan dijual di atas nilai nominal, atau di atas harga premium.

Hubungan ketiga

Semakin dekat tanggal jatuh tempo obligasi, maka nilai pasar obligasi tersebut akan mendekati nilai nominalnya.

Hubungan keempat

Obligasi jangka panjang memiliki risiko tingkat suku bunga yang lebih besar dibandingkan dengan obligasi jangka pendek. Perubahan tingkat suku bunga sekarang (tingkat pengembalian yang diharapkan) menyebabkan perubahan harga pasar obligasi. Namun dampak pada nilai, lebih besar untuk obligasi jangka panjang dibanding obligasi jangka pendek.

Hubungan kelima

Sensitivitas nilai obligasi terhadap perubahan tingkat bunga tidak hanya bergantung pada lamanya waktu jatuh tempo, tetapi juga pada arus kas yang dihasilkan  oleh obligasi tersebut. Durasi obligasi adalah ukuran besarnya reaksi harga obligasi pada perubahan tingkat suku bunga. Semakin besar perubahan persentase relatif pada nilai obligasi maka sebagai respon atas perubahan persentase perubahan tingkat bunga, maka akan semakin lama pula durasinya. Pada perhitungan jangka waktu, kita tidak hanya mempertimbangkan jangka waktu jatuh tempo atau lamanya waktu penerimaan arus kas tetapi juga pola penerimaan arus kas tersebut. Secara spesifik, jangka waktu rata-rata tertimbang hingga jatuh tempo di mana bobot yang dikenakan di setiap tahunnya adalah nilai sekarang arus kas tahun itu.

 

Chapter 8. Stock Valuation

Saham Preferen

Sering disebut sebagai surat berharga hybrid karena :

v  Serupa dengan saham biasa dalam hal : tidak memiliki tanggal jatuh tempo,dividen yang tidak dibayarkan tidak menyebabkan kebangkrutan,dividen tidak dapat mengurangi pembayaran pajak.

v  Serupa dengan obligasi dalam hal jumlah dividen yang dibayarkan memiliki batas tertentu.

 

 

Ciri dan karakteristik saham preferen :

  1. Terdiri dari berbagai golongan/seri/kelas yang masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda.
  2. Klaim  atas aset dan penghasilan : mendapat prioritas lebih dahulu atas aset dan penghasilan sewaktu terjadi kebangkrutan.
  3. Sifat Kumulatif : pemenuhan atas dividen yang belum dibayarkan sebelumnya harus diselesaikan sebelum dividen saham biasa diumumkan.
  4. Ketentuan-ketentuan perlindungan : melindungi kepentingan investor dengan memberikan  hak voting pada saat dividen tidak dibayar,perusahaan memiliki kesulitan keuangan,pembatasan pembayaran dividen saham biasa,tidak dipenuhinya pembayaran sinking fund.
  5. Dapat diubah/dikonversi menjadi saham biasa.
  6. Tarif yang  dapat disesuaikan : tujuannya untuk melindungi investor atas fluktuasi tingkat bunga yang berpengaruh pada dividen yang dibayarkan.
  7. Sifat Partisipasi : pemegang saham dimungkinkan untuk memperoleh penghasilan/mengambil bagian  melebihi pembayaran dividen yang ditentukan.
  8. Payment in Kind : investor tidak menerima dividen di muka namun mendapatkan saham preferen yang lebih banyak yang pada gilirannya mendapatkan dividen saham yang besar.
  9. Sifat Penghentian : saham preferen dapat ditarik yang memungkinkan untuk dibeli kembali saham preferennya dari pemegang saham dengan harga dan jangka waktu yang telah ditentukan yang mana memerlukan persyaratan adanaya dana simpanan

untuk penghentian saham preferen tersebut (sinking fund provision).

Penilaian Saham Preferen :

               D 

Vps =

                       kps

           

          Vps       = penilaian saham preferen

          D        = dividen tahunan

          kps       = tarif pengembalian yang diharapkan

Saham Biasa

Merupakan wujud perwakilan kepemilikan suatu korporasi.Saham biasa tidak mempunyai tanggal jatuh tempo dan tetap ada sepanjang perusahaan masih ada,tidak ada batasan atas pembayaran dividen.

Ciri dan karakteristik saham biasa :

  1. Klaim terhadap penghasilan setelah kewajiban atas kreditur (pemegang obligasi) dan pemegang saham preferen dibayarkan.
  2. Klaim  atas aset setelah kewajiban atas kreditur (pemegang obligasi) dan pemegang saham preferen dibayarkan.
  3. Hak suara dalam memilih dewan direksi,memberikan persetujuan terhadap anggaran dasar perusahaan.
  4. Hak didahulukan : hak untuk mempertahankan proporsi saham dalam kepemilikan perusahaan yang mana ketika saham baru diterbitkan,pemegang saham biasa didahulukan untuk membeli saham yang baru tersebut.
  5. Tanggung jawab terbatas : bila terjadi kebangkrutan tanggung jawab pemegang saham biasa dibatasi sampai jumlah modal yang disetor.

 

Penilaian Saham Biasa :

  • Penilaian Saham Biasa – Single Holding Period

                 

               D1           P1

Vcs =                  + 

                    (1+ kcs)        (1+ kcs)

              

          Vcs       = penilaian saham biasa

          D1       = nilai sekarang dari dividen yang diterima pada 1 tahun

          P1       = nilai sekarang dari harga pasar yang diterima pada 1 tahun

          kcs       = tarif pengembalian yang diharapkan

  • Penilaian Saham Biasa – Multiple Holding Period

 

               D1

Vcs =

                    kcs – g

              

          Vcs       = penilaian saham biasa

          D1       = dividen tahun kesatu

          kps       = tarif pengembalian yang diharapkan

          g        = tingkat pertumbuhan

Tingkat Pengembalian yang Diharapkan oleh Pemegang Saham

Tingkat pengembalian atas saham preferen/saham biasa tergantung dari kebijakan manajer keuangan,karena manajer lebih mengetahui ekspektasi dari investor yang nantinya dapat mempengaruhi pembiayaan atas proyek baru.

Tingkat pengembalian yang diharapkan – Saham Preferen :

 

­_            D   

kps =

                       P0

      _       

          kps       = tingkat pengembalian yang diharapkan saham preferen

          D        = dividen tahunan

          P0         = harga pasar

Tingkat pengembalian yang diharapkan – Saham Biasa :

­_            D1 

kcs =                + g

                       P0

      _       

          kcs       = tingkat pengembalian yang diharapkan saham biasa

          D1       = dividen pada tahun kesatu

          P0         = harga pasar

          g        = tingkat pertumbuhan

 

 

 

 

Capital Budgeting Decision Criteria

  1. A.       Pendahuluan

Capital budgeting didefinisikan sebagai proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan investasi dalam aktiva tetap. Capital budgeting dapat juga didefinisikan sebagai penilaian investasi (investment appraisal) yang merupakan proses perencanaan dalam menentukan investasi jangka panjang suatu perusahaan seperti dalam bentuk mesin, pabrik, produk maupun proyek penelitian dan pengembangan (research and development project). Tidak semua capital budgeting berarti bahwa harus terdapat produk yang baru akan tetapi dapat juga berarti produk lama dan dipasarkan dalam pasar yang baru.

Terdapat 4 kriteria yang sering dipergunakan dalam mengevaluasi proposal investasi, sebagai berikut:

  1. 1.     Payback Period
  2. 2.     Net Present Value (NPV)
  3. Profitability Index (Benefit/Cost Method)
  4. 4.     Internal Rate of Return
  5. B.        Payback Period

Payback Period adalah salah satu kriteria dari capital budgeting yang didefinisikan sebagai lamanya waktu (tahun) yang diperlukan untuk mengembalikan investasi awal. Kriteria keputusan yang dipergunakan adalah apakah payback period kurang dari atau sama dengan periode waktu maksimal yang ditetapkan perusahaan.

Sebagai contoh suatu perusahaan dengan proposal investasi sebesar Rp 100 milyar. Periode waktu maksimal yang diinginkan perusahaan adalah 2 tahun dengan data-data free cash flow sebagai berikut:

 

After Tax Free Cash Flow

Tahun ke-1

Rp 10 milyar

Tahun ke-2

Rp 60 milyar

Tahun ke-3

Rp 80 milyar

Berdasarkan data tersebut diatas maka payback period terjadi setelah periode tahun ke-2. Apabila diasumsikan bahwa 80 milyar pada tahun ke-3 menyebar merata sepanjang tahun, maka pengembalian investasi awal yang dibutuhkan (kekurangannya sebesar 30 milyar lagi) akan tercapai pada 3/8 tahun (30 milyar/80 milyar). Jadi secara total payback period untuk kasus ini adalah sebesar 2,375 tahun dimana jumlah ini lebih lama daripada yang diinginkan perusahaan sebesar 2 tahun sehingga proposal ini ditolak.

Keuntungan dalam penggunaan criteria ini adalah sebagai berikut:

  1. Penggunaan free cash flow
  2. Mudah dalam penghitungan dan pemahaman
  3. Dapat digunakan sebagai indikasi awal pengambilan keputusan

Sedangkan kelemahan metode ini adalah sebagai berikut:

  1. Mengabaikan nilai waktu uang
  2. Mengabaikan nilai free cash flow yang terjadi setelah payback period
  3. Pemilihan waktu pengembalian maksimum yang dapat diterima (dalam contoh di atas selama 2 tahun) dapat berubah-ubah

 

 

 

  1. C.        Net Present Value (NPV)

Metode ini didefinisikan sebagai nilai sekarang (present value) dari free cash flow untuk kemudian dikurangkan dengan pengeluaran awal investasi yang apabila dinotasikan dalam bentuk rumus sebagai berikut:

 

 

Dimana:

FCFt                                : annual free cash flow

IO                                   : investment outlay (pengeluaran awal investasi)

k                                      : discount rate/required rate of return/cost of capital

Kriteria keputusan dalam metode ini adalah sebagai berikut:

–          Jika NPV ≥ 0.0 maka diterima

–          Jika NPV < 0.0 maka ditolak.

Keuntungan dalam penggunaan criteria ini adalah:

  1. Penggunaan free cash flow dibandingkan accounting profit
  2. Pengakuan terhadap nilai waktu dari uang
  3. Dikarenakan hanya NPV yang bernilai positif saja yang dapat diterima maka akan dapat meningkatkan value dari perusahaan yang dalam gilirannya akan memaksimalkan shareholder’s wealth.

Sedangkan kelemahan criteria ini antara lain:

  1. Memerlukan perkiraan jangka panjang atas free cash flow
  2. 2.        Sensitivitas dalam hal pemilihan discount rate.

 

  1. D.       Profitability Index (Benefit/Cost Ratio)

Metode ini didefinisikan sebagai rasio present value arus kas bebas masa depan terhadap pengeluaran awal. Indeks profitabilitas menjadi ukuran relatif yang diinginkan dari proposal investasi yang dihitung dengan rasio nilai sekarang dari masa manfaat masa depan terhadap biaya awal. Kriteria ini dinotasikan dalam bentuk rumus :

 

 

Dimana:

FCFt                                : annual free cash flow

IO                                   : investment outlay (pengeluaran awal investasi)

k                                      : discount rate/required rate of return/cost of capital

Kriteria keputusan dalam metode ini adalah sebagai berikut:

–           Jika PI ≥ 1.0 maka diterima

–           Jika PI < 1.0 maka ditolak

Metode Profitability Index memiliki persamaan dengan metode Net Present Value. Ketika nilai sekarang dari arus kas bersih sebuah proyek lebih besar daripada pengeluaran kas awalnya, maka kedua metode akan menghasilkan jumlah perhitungan yang lebih dari 1. Artinya kedua metode ini, akan menghasilkan keputusan yang sama antara menerima atau menolak. Karena kedua metode ini pada dasarnya sama, kedua metode ini mempunyai keunggulan yang sama pula dengan kriteria lainnya. Persamaan kedua metode ini antara lain :

  1. Sama-sama menghitung arus kas
  2. Menggunakan pemilihan waktu dari arus kas
  3. Konsisten bertujuan untuk maksimalisasi kekayaan pemegang saham

Sedangkan kelemahan kriteria Profitability Index sama dengan kelemahan yang dimiliki kriteria Net Present Value yaitu:

  1. Memerlukan perkiraan jangka panjang atas free cash flow.
  2. Sensitivitas dalam hal pemilihan discount rate.
  3. E.        Internal Rate of Return (IRR)

 

IRR adalah tingkat diskonto kas yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas bersih masa depan dengan pengeluaran kas awal. Secara matematis dirumuskan sbb:

 

                                       

 

 

Dimana:

FCFt                        : annual free cash flow

IO                           : investment outlay (pengeluaran awal investasi)

n                             : usia sebuah proyek

IRR                         : tingkat pengembalian internal

Kriteria keputusan dalam metode ini adalah sebagai berikut:

–           Jika IRR ≥ tingkat pengembalian yang disyaratkan maka diterima

–           Jika IRR < tingkat pengembalian yang disyaratkan maka ditolak.

 

Sekilas Melihat Praktik Penganggaran Modal Sebenarnya

Umumnya perusahaan menggunakan metode NPV dan IRR, tetapi metode Payback Ratio juga digunakan sebagai metode kedua dalam capital budgeting.

Menemukan proyek baru yang menguntungkan dan dengan tepat mengevaluasinya, adalah inti kesinambungan perusahaan dan fungsi utama capital budgeting. Apapun keputusan yang dibuat oleh perusahaan ketika melakukan investasi aktiva tetap, hal itu merupakan keputusan capital budgeting. Capital budgeting secara lebih khusus dapat disebut dengan perencanaan strategis. Dengan menggunakan keempat metode yang telah dibahas sebelumnya, seluruh informasi yang terkumpul kemudian dianalisis sedemikian rupa untuk tujuan akhir berupa keputusan yang tepat dalam capital budgeting.

 

 

 

ARUS KAS DAN TOPIK LAIN DALAM PENGANGGARAN MODAL

 

Tinjauan menyeluruh dari perhitungan Arus Kas Bebas sebuah proyek

  • Ø Pengertian

Arus Kas Bebas (Free Cash Flows) :  penambahan arus kas setelah pajak ;  perbedaan  arus kas perusahaan dengan atau tanpa proyek yang direncanakan

  • Ø Arus Kas Bebas terbagi menjadi tiga kategori :

–           Pengeluaran Awal (initial Outlay)

–           Arus Kas Bebas Tahunan (Annual Free Cash Flow)

–           Arus Kas Akhir (Terminal Cash Flow)

  1. 1.   Pengeluaran Awal

“arus kas keluar yang dengan segera dibutuhkan untuk membeli aktiva dan menggunakannya untuk produksi”

  1. 2.     Arus Kas Bebas Tahunan

Berasal dari :

  1. Arus Kas Operasi
  2. Perubahan dalam modal kerja (working capital)
  3. Pengeluaran modal

Penghitungan dimulai dari  laporan keuangan Pro Forma kemudian dilakukan penyesuaian terhadap Bunga, Depresiasi, dan Modal Kerja.

ü  Bunga

Penambahan beban bunga yang berasal dari penerbitan obligasi untuk pembiayaan proyek tidak dimasukkan dalam penghitungan arus kas bebas tahunan

ü  Depresiasi

Depresiasi merupakan non-cash expense, sehingga dikeluarkan dari net income dalam perhitungan arus kas bebas tahunan. Walaupun begitu, depresiasi tetap memberi pengaruh terhadap cash flow karena depresiasi mempunyai pengaruh terhadap net income dan beban pajak perusahaan.

ü  Modal Kerja (working capital)

Working capital =  current assets – current liabilities

Modal Kerja merupakan ‘cash flow item but non-cash expense’. Modal kerja juga mencerminkan liquiditas perusahaan. Masalah yang timbul :

  1. Porsi hutang lancar dari sebuah hutang jangka panjang yang telah dihitung sebagai bagian dari pembiayaan proyek. Jika kita masukkan dalam penghitungan modal kerja maka akan terjadi penghitungan ganda.
  2. Kas  yang dimasukkan dalam penghitungan cash flow adalah kas yang diperlukan untuk operasi bisnis.
  3. 3.     Arus Kas Akhir

Arus Kas Akhir yang biasanya terjadi :

–           Nilai sisa proyek setelah pajak

–           Pengeluaran kas yang terkait dengan penghentian proyek

–           Perolehan kembali pengeluaran non biaya yang terjadi saat inisiasi proyek

PENGUKURAN ARUS KAS

                Penghitungan arus kas dapat dibagi menjadi tiga bagian dasar :

  1. Arus Kas dari Operasi
  • Penghitungan Arus Kas Operasi : Pendekatan Pro Forma

Operating cash flow = charge earning before interest and taxes – change in taxes + change in depreciation

  • Penghitungan Arus Kas Operasi Alternatif 1  : Pendekatan Penambahan Kembali

Operating cash flow = net income + depreciation

  • Penghitungan Arus Kas Operasi Alternatif 2  : Pendekatan definisi

Operating cash flow = changes in revenue – changes in cash expense – change in taxes

  • Penghitungan Arus Kas Operasi Alternatif 3  : Depreciation Tax Shield approach

Operating cash flow = (revenues-cash expenses) x (1-tax rate) + (depreciation change x  tax rate)

  1. Arus Kas dari Perubahan Modal Kerja

Cash flow from net working capital = additional investment in working capital –  short term liabilities generated

  1. Arus Kas dari Perubahan Pengeluaran Modal

Penambahan pengeluaran modal yang diperlukan sepanjang usia proyek

 

 

Rasionalisasi untuk penjatahan modal

Secara umum terdapat tiga pertimbangan dasar yang sering dipakai dalam menentukan batasan penjatahan modal, yaitu:

  1. Kondisi pasar yang kurang menguntungkan
  2. Kekurangan manajer berkualitas untuk memandu proyek baru
  3. Adanya pertimbangan yang tidak terukur

Namun perlu diperhatikan pula pengaruh penjatahan modal terhadap perusahaan yang bisa berakibat negatif seperti turunnya harga saham karena hilangnya keunggulan kompetitif sehungan dengan adanya pembatasan anggaran modal yang berakibat pada gagalnya peningkatan proses pabrikasi dan produksi.

 

Penjatahan modal dan pemilihan proyek

Jika perusahaan memutuskan untuk memaksakan suatu penjatahan modal atas proyek investasi maka criteria keputusan yang sesuai akan memilih suatu proyek yang bernilai bersih sekarang paling tinggi. Akibatnya anda akan memilih proyek yang meningkatkan kekayaan sebagian besar pemegang saham karena nilai bersih sekarang menjadi jumlah kekayaan yang yang diciptakan ketika suatu investasi diterima. Hal ini mungkin akan menghalangi pengambialn proyek yang berperingkat tertinggi pada indeks prifitabilitasnya atau tingkat pengembalian internalnya.

 

 Pengurutan proyek

Jika terdapat dua proyek yang memenuhi criteria untuk diterima, mungkin saja diinginkan untuk memilih hanya salah satu darinya sebagaimaan adanya eksklusivitas mutual. Proyek eksklusif mutual terjadi ketika satu rangkaian investasi disajiakns secara esensial terhadap tugas yang sama, penerimaan terhadap satu proposal investasi berarti penolakan bagi yang lainnya.

Permasalahan pada pengurutan proyek

Ada tiga jenis umum permasalahan pengurutan, yaitu:

  1. Disparitas ukuran,
  2. Disparitas waktu,
  3. Usia yang tidak sama

 

Disparitas ukuran, terjadi ketika proyek eksklusif mutual dari ukuran yang tidak seimbang diuji. Dapat digambarkan melalui contoh berikut:

 

Proyek A

Proyek B

(arus pemasukan) $100

1 tahun

$200 (arus pengeluaran)

NPV=$72,70

PI=1,30

IRR=50%

 

$1.500 (arus pengeluaran)

NPV=$277,1

PI=1,15

IRR=27%

 

 

1 tahun

(arus pemasukan) $1.900

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan contoh di atas, dengan asumsi tingkat pengembalian sama, proyek A menimbulkan pengeluaran awal $200 dan arus kas masuk $300 dalam 1 tahun sedangkab proyek B $1500 dan $1900. Jika criteria NPV yang digunakan maka proyek A yang akan dipilih namun jika criteria PI dan IRR yang dipakai maka proyek B yang akan dipilih. Mana yang lebih baik?jawabannya tergantung apakah penjatahan modal ada. Jika ada maka seberapa besar NPV dari proyek tambahan dari dana yang tersisa jika proyek  A dipilih. Jika NPV nya lebih besar dari NPV A-NPV B maka memilih proyek A akan menghasilkan NPV yang lebih besar.

 

Disparitas waktu: permasalahan disparitas waktu dan permasalahan permasalahan peringkat yang dihasilkan dari asumsi pembedaan investasi kembali dibuat oleh nilai bersih sekarang dan criteria keputusan tingkat pengembalian internal. Dapat digambarkan melalui contoh berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

                Proyek A                                                        Proyek B

                                    $100  $200  $2.000                                            $650  $650  $650

 

                                   

                                       1      2         3 tahun                                          1       2        3 tahun

                        $1000                                                               $1000

                        NPV=$758.10                                                    NPV=$616.55

                        PI=1,758                                                           PI=1.617

                        IRR=35%                                                          IRR=43%

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan contoh di atas NPV dan PI dari proyek  lebih besar daripada proyek B namun IRR proyek B lebih besar yang berarti tingkat penerimaan kas yang lebih cepat. Mana yang lebih baik? Tergantung asumsi investasi kembali mana yang dipakai.

 

Usia yang tidak sama:permasalahan peringkat yang terakhir untuk diuji terpusat pada pertanyaan apakah sesuai membandingkan proyek yang eksklusif mutual dengan umur proyek yang berbeda. Dapat digambarkan melalui contoh berikut:

 

                Proyek A                                                        Proyek B

                                    $500  $500  $500                                               $300  $300  $300  $300  $300  $300

 

                                   

                                       1      2         3 tahun                                          1          2       3        4       5          6 tahun

                        $1000                                                               $1000

                        NPV=$243.50                                                    NPV=306.50

                        PI=1,2435                                                         PI=1,306

                        IRR=23%                                                          IRR=20%

 

 

                

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan contoh di atas, proyek A dan proyek B tidak bisa karena umur yang tidak sama. Untuk megatasinya bisa dengan meggunakan asumsi arus kas masuk dari investasi

berumur lebih pendek akan diinvestasikan pada tingkat pengembalian yang disyaratkan sampai dengan penghentian aktiva yang berumur lebih panjang. Namun metode ini terlalu sedehana, hanya menghitung NPV.

 

Pilihan dalam penganggaran modal

Ada tiga jenis pilihan paling umum yang dapat menambah nilai ke modal proyek penganggaran, yaitu:

  1. Pilihan untuk menunda suatu proyek sampai masa depan arus kas menjadi lebih baik. Pilihan ini adalah umum ketika perusahaan mempunyai hak eksklusif seperti hak paten atas teknologi atau produk.
  2. Pilihan untuk memperluas sebuah proyek, dapat berupa ukuran atau produk baru yang dasarnya tidak memungkinkan.
  3. Pilihan untuk meninggalkan suatu proyek, jika masa depan arus kas tidak memenuhi harapan.

RESUME BAB 12 COST OF CAPITAL (BIAYA MODAL)

BIAYA MODAL : INTI  KONSEP DAN DEFINISI

Biaya Modal, Biaya Peluang Investor, dan Tingkat Pengembalian Hasil Yang Diinginkan

Ketika perusahaan menerbitkan saham atau obligasi, perusahaan sedang menghimpun modal untuk melakukan investasi di berbagai macam proyek. Modal adalah faktor yang dibutuhkan untuk produksi, dan seperti faktor-faktor yang lain, modal memiliki biaya. Biaya ini akan sama dengan pengembalian yang diminta investor dari sekuritas tersebut.

Tingkat pengembalian yang disyaratkan investor adalah tingkat pengembalian minimum yang diperlukan untuk menarik investor membeli atau memiliki surat berharga tertentu. Tingkat pengembalian ini mempertimbangkan biaya peluang investor dalam membuat investasi: yaitu, jika investasi tertentu dibuat, investor harus kehilangan pengembalian yang dapat tersedia pada investasi terbaik berikutnya. Pengembalian yang hilang ini kemudian merupakan biaya peluang dalam melakukan investasi dan, sebagai konsekuensinya, merupakan tingkat pengembalian yang disyaratkan oleh investor.

Biaya pengambangan (flotation cost) adalah berbagai biaya transaksi yang terjadi saat perusahaan menambah dana dengan mengeluarkan surat berharga tertentu.

Kebijakan Keuangan dan Biaya Modal

Kebijakan keuangan perusahaan adalah kebijakan perusahaan mengenai sumber pembiayaan dan campuran tertentu antar sumber tersebut yang akan mereka gunakan,

Biaya modal rata-rata tertimbang adalah biaya rata-rata setelah pajak atas masing-masing sumber modal yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai sebuah proyek. Bobot tersebut mencerminkan proporsi dari total pembiayaan yang diambil dari masing-masing sumber. Biaya modal tertimbang rata-rata merupakan tingkat pengembalian hasil yang harus didapat perusahaan atas investasinya, sehingga dapat memberikan kompensasi kepada kreditur dan pemegang saham dengan tingkat pengembalian hasil individual yang dibutuhkan.

 

MENENTUKAN BIAYA MODAL INDIVIDUAL

Biaya sumber modal tertentu akan sama dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan investor setelah penyesuaian pengaruh biaya-biaya pengambangan dan pajak perusahaan.

Biaya Utang

Tingkat pengembalian yang disyaratkan investor atas hutang semata-mata merupakan pengembalian yang disyaratkan kreditur ketika mereka memberi pinjaman kepada perusahaan.

Untuk menghitung biaya modal hutang setelah pajak, pertama-tama kita harus mengkalkulasikan biaya modal sebelum pajak dengan menggunakan rumus berikut:

                   n

NPd =  ∑  ___$It__ +    $M__

                 t=1     (1 + kd)t      (1 + kd)n

 

Di mana

NPd

=

Pemasukan bersih yang diterima oleh perusahaan dari penjualan tiap obligasi

$It

=

Sejumlah bunga yang dibayar ke investor pada priode t untuk tiap obligasi

$M

=

Nilai jatuh tempo dari tiap obligasi yang dibayar pada periode n

kd

=

Biaya utang sebelum pajak ke perusahaan

n

=

Banyaknya periode jatuh tempo

  

Kemudian menyesuaikan pengaruh pajak perusahaan karena bunga obligasi dikurangi dari pendapatan terkena pajak perusahaan.

 

Biaya utang setelah pajak = kd (1- Tc), di mana Tc adalah tingkat tarif pajak perusahaan.

 

Biaya dari Saham Istimewa

Menentukan biaya saham istimewa (preferred stock) merupakan hal yang sangat sederhana karena kesederhanaan arus kas yang dibayarkan kepada pemegang saham istimewa. Menghitung hasil dividen pada pengeluaran saham istimewa dengan menggunakan pemasukan bersih dari penjualan tiap saham baru sebagai berikut :

 

Biaya saham istimewa = 

                                       

Pada kasus saham istimewa, tidak ada penyesuaian pajak yang harus dibuat sebab dividen saham istimewa bukan pengurang pajak.

 

Biaya atas Ekuitas Saham Biasa

Ekuitas saham biasa merupakan hal yang unik karena dua alasan. Pertama, biaya ekuitas saham biasa lebih sukar untuk diestimasi dibandingkan dengan biaya hutang atau saham istimewa karena tingkat pengembalian yang disyaratkan pemegang saham biasa tidak dapat diamati. Kedua, ekuitas saham biasa dapat diperoleh dari laba ditahan perusahaan atau dari penjualan saham baru.

Biaya yang terkait dengan masing-masing sumber ini adalah berbeda, karena perusahaan tidak mengeluarkan biaya-biaya pengambangan apapun ketika dia menahan laba, tetapi mengeluarkan biaya tersebut ketika ia menjual saham biasa yang baru.

 

Model Pertumbuhan Dividen

Kita membahas dua metode untuk mengestimasi biaya ekuitas biasa. Yang pertama melibatkan penggunaan model pertumbuhan dividen :

 

kcs= _D1   + g

          Pcs

 

Di mana g adalah tingkat dividen yang diharapkan untuk tumbuh selamanya, kcs adalah tingkat pengembalian hasil yang diminta investor, dan Pcs adalah nilai dari satu lembar saham biasa. Ketika sebuah saham biasa dikeluarkan, perusahaan mengeluarkan biaya-biaya pengambangan. Biaya-biaya ini mengurangi sejumlah dana perusahaan yang diterima pada tiap saham. Konsekuensinya, biaya ekuitas biasa eksternal yang menggunakan model pertumbuhan dividen meminta kita mengganti Pcsdengan NPcs, yang merupakan pemasukan bersih ke perusahaan, setelah biaya-biaya mengambang per lembar saham dari penjualan saham. Sehingga biaya ekuitas biasa menjadi:

 

kncs= _D1   + g

          NPcs

 

Permasalahan dalam Mengimplementasikan Model Pertumbuhan Dividen

Keunggulan utama dari model pertumbuhan dividen adalah kesederhanaannya. Kelemahan utama terkait dengan kemampuan atau kepantasan penilaian model. Yaitu, model pertumbuhan dividen yang didasarkan pada asumsi dasar, di mana dividen diharapkan tumbuh pada sebuah tingkat yang konstan g selamanya.

 

Model Penetapan Harga Aset Modal (CAPM)

CAPM adalah pernyataan mengenai hubungan antara pengembalian yang diharapkan dan resiko di mana resiko tersebut dicakup oleh resiko sistematis (beta) untuk aset yang beresiko. Pengembalian hasil yang diharapkan adalah sama dengan jumlah tingkat bunga yang bebas resiko dan premi resiko yang sama dengan produk beta dan premi resiko pasar.

Model tergantung pada tiga hal :

  1. Tingkat bebas resiko, krf
  2. Resiko sistematis dari pengembalian saham biasa relatif atas pasar, secara keseluruhan atau koefisien beta saham ß  dan
  3. Premi resiko pasar yang sama dengan perbedaan di tingkat pengembalian hasil yang diminta untuk pasar secara keseluruhan, tingkat pengembalian hasil yang diminta untuk “rata –rata surat berharga “dikurangi tingkat resiko yang diterima, km – krf.

 

Dengan menggunakan CAPM, tingkat pengembalian hasil yang disyaratkan investor dapat ditulis sebagai berikut :

 

kckrf  + ß(kmkrf)

 

Kita menemukan bahwa semua variabel pada sisi kanan persamaan tersebut di atas dapat di peroleh dari sumber publik untuk perusahaan lebih besar yang melakukan perdagangan secara publik. Namun, untuk perusahaan non publik, CPAM lebih sukar untuk diterapkan dalam estimasi tingkat pengembangan hasil yang diminta investor.

Permasalahan Dalam Menerapkan CAPM

Pendekatan CAPM mempunyai dua keuntungan utama. Pertama, modelnya sederhana dan mudah untuk dipahami dan diterapkan. Kedua, karena model tidak bersandar pada dividen atau asumsi apapun mengenai tingkat pertumbuhan dividen, maka modal dapat diberlakukan bagi perusahaan yang tidak sedang membayar dividen atau tidak diharapkan untuk memiliki tingkat pertumbuhan dividen yang tetap.

 

 

BIAYA MODAL TERTIMBANG RATA-RATA

Setelah kita menghitung biaya-biaya modal individual untuk masing-masing sumber pembiayaan yang mungkin digunakan perusahaan, kini kita beralih ke kombinasi dari biaya-biaya modal tersebut ke dalam biaya modal rata-rata yang tunggal. Untuk menaksir biaya modal tertimbang rata-rata, kita harus mengetahui biaya masing-masing sumber modal yang digunakan dan campuran struktur modal. Struktur modal adalah campuran dari sumber dana jangka panjang yang digunakan perusahaan.

Menghitung biaya modal tertimbang rata-rata untuk sebuah perusahaan yang hanya menggunakan hutang dan ekuitas biasa dengan menggunakan persamaan berikut :

 

Biaya modal tertimbang rata-rata

 

=

Biaya utang setelah pajak

 

 

x

Proporsi pembiayaan utang

 

+

Biaya ekuitas

 

x

Proporsi pembiayaan ekuitas

 

Bobot Struktur Modal

Untuk membuat penghitungan biaya modal menjadi berarti, maka biaya modal harus berhubungan secara langsung pada tingkat resiko dari bagian tertentu sebuah proyek yang dianalisa. Yaitu secara teori, biaya modal harus mencerminkan bagian tertentu di mana dana dikumpulkan (struktur modal yang digunakan) dan karakteristik resiko sistematis dari proyek itu. Konsekuensinya, cara yang paling tepat untuk menghitung struktur modal tertimbang adalah dengan menggunakan sejumlah uang dari berbagai sumber modal yang benar-benar digunakan perusahaan.

Pada prakteknya, campuran penggunaan sumber pembiayaan oleh sebuah perusahaan akan berubah dari tahun ke tahun. Karena alasan ini, banyak perusahaan mempunyai kebijakan untuk menggunakan proporsi struktur modal sasaran dalam menghitung biaya modal tertimbang rata-rata perusahaan. Proporsi struktur modal sasaran adalah campuran sumber-sumber pembiayaan yang direncanakan untuk dipertahankan oleh perusahaan dari waktu ke waktu.

 

Biaya modal tertimbang rata-rata perusahaan, kwacc, dapat digambarkan sebagai berikut :

 

kwacc = wd x kd(1-Tc) + wps x kps + wcsx kcs + wncs x kncs

 

Dimana w adalah istilah yang mewakili harga pasar tertimbang terkait dengan penggunaan tiap sumber pembiayaan perusahaan. Perhatikan bahwa, kita secara sederhana menghitung biaya modal tertimbang rata-rata tiap sumber modal perusahaan, di mana tertimbang mencerminkan penggunaan relatif perusahaan dari tiap sumber.

Penimbangan yang digunakan untuk menghitung kwacc, apakah secara teoritis akan mencerminkan harga pasar atas tiap sumber modal sebagai pecahan harga pasar total atas semua sumber (yaitu harga pasar perusahaan). Namun, analis sering menemukan penggunaan harga pasar tertimbang apapun tidaklah praktis, karena surat-surat berharga perusahaan diperdagangkan secara publik atau karena semua sumber modal tidak digunakan dalam proporsi pelengkapan target struktur modal perusahaan mereka di dalam setiap peristiwa pembiayaan. Pada kasus ini, kita menemukan bahwa penimbangan harus merupakan campuran target keuangan jangka panjang perusahaan.

Biaya modal tertimbang rata-rata perusahaan akan mencerminkan resiko operasi atau resiko bisnis perusahaan dari sekumpulan investasi dan penjamin resiko keuangan atas cara di mana aset tersebut dibiayai. Oleh karena itu, estimasi biaya modal ini bermanfaat hanya untuk mengevaluasi peluang investasi baru yang mempunyai resiko keuangan dan bisnis.

 

MENGGUNAKAN BIAYA MODAL PERUSAHAAN UNTUK MENGEVALUASI INVESTASI MODAL BARU.

Biaya sangat tergantung pada penggunaan dana, bukan sumber mereka. Maka konsekuensinya, biaya modal yang sesuai untuk peluang investasi individual harus mencerminkan karakteristik resiko individual dari investasi tersebut.

Karakteristik resiko investasi berasal dari dua sumber yaitu resiko bisnis dan resiko keuangan. Resiko bisnis adalah variabilitas potensial laba perusahaan sebelum bunga dan pajak sebagai hasil dari sifat usaha bisnis perusahaan. Sedangkan resiko keuangan adalah penambahan variabilitas laba yang tersedia untuk pemegang saham perusahaan dan penambahan resiko ketidakmampuan bayar utang yang disebabkan oleh penggunaan sumber pembiayaan yang memerlukan pengembalian yang tetap pada struktur keuangan perusahaan.

BAB 13 MENGELOLA NILAI PEMEGANG SAHAM

NILAI PEMEGANG SAHAM

Perusahaan yang mendapat biaya pengembalian pendapatan yang lebih tinggi daripada biaya modalnya berarti telah menciptakan nilai pemegang saham. Untuk mengatur nilai pemegang saham, dua masalah harus dipecahkan, yaitu pengidentifikasian serangkaian ukuran kinerja dan perancangan sebuah sistem penggajian (kompensasi) yang mendorong karyawan utuk melandasi keputusan mereka dengan ukuran kinerja pada saat pengambilan keputusan sehari-hari.

Perbandingan nilai pemegang saham antara perusahaan yang satu dengan yang lain dapat dilakukan dengan menghitung Tambahan Nilai Pasar (Market Value Added), yang merupakan ukuran berapa banyak kekayaan perusahaan yang telah dihasilkan dalam periode tertentu.

TNP =  nilai perusahaan – modal yang diinvestasikan

Penilaian Bisnis- Strategi Untuk Menciptakan Nilai Pemegang Saham

ada dua paradigma penilaian yang digunakan untuk menjelaskan nilai dari saham biasa perusahaan di pasar modal, yaitu:

1). Model Akuntansi

Jika manajemen menggunakan model akuntansi untuk memperhitungkan nilai ekuitinya, maka manajemen akan berfokus pada penghasilan (earnings) yang dilaporkan bersamaan dengan penilaian pasar atas penghasilan tersebut seperti yang tercermin dalam rasio harga penghasilan.

2). Model Arus Kas Bebas

Merupakan metode penilaian sebuah perusahaan dengan menghitung present value dari semua arus kas bebas masa yang akan datang. Karena arus kas bebas untuk masa datang yang tidak terbatas tidak bias diramalkan, maka arus kas diproyeksikan untuk jumlah tahun tertentu (periode perencanaan), dan kemudian menahan nilai dari semua arus kas bebas tersebut dengan menggunakan konsep nilai akhir.

Perbandingan model akuntansi dengan model arus kas bebas:

 

Model akuntansi

Model arus kas bebas

Nilai ekuitas

Rasio harga penghasilan

X

Penghasilan per saham

Present value dari arus kas masa depan

Nilai pemicu

Factor penentu penghasilan akuntansi dan rasio harga penghasilan

Faktor penentu arus kas masa depan dan biaya peluang dari modal

         

 

PEMICU NILAI

Adalah variable yang mempengaruhi nilai perusahaan dan dapat dikendalikan atau dipengaruhi oleh manajemen perusahaan. Pemicu nilai meliputi hal-hal sebagai berikut:

1). Pertumbuhan penjualan tahun pertama sampai ketiga

2). Margin laba usaha

3). Modal kerja bersih terhadap rasio penjualan

4). Property perusahaan, pabrik, dan peralatan terhadap rasio penjualan

5). Biaya modal

 

Economic Value Added – EVA

Digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan pada interval waktu tertentu.

EVA didefinisikan sebagai perbedaan dalam laba usaha bersih setelah pajak dan beban modal untuk periode itu (yaitu produk dari biaya modal perusahaan dan modal yang ditanamkan pada awal periode).

 

 

laba usaha bersih setelah pajak (NOPAT)

Biaya modal tertimbang rata-rata (kwacc)

Tambahan nilai ekonomi perusahaan (EVA) untuk tahun t dirumuskan sebagai berikut :

 

 

Modal

yang ditanamkant-1

 

EVAt =                                      –                                          x

 

 

 

 

 

Hasil dari EVA tersebut adalah pengukuran kontribusi operasi perusahaan untuk periode tersebut terhadap nilai perusahaan.

Hubungan antara EVA dan TNP:

TNP adalah nilai saat ini dari keseluruhan EVA masa dating atas kelangsungan hidup perusahaan. Jadi, mengelola perusahaan dengan cara yang dapat meningkatkan EVA akan menimbulkan TNP yang lebih tinggi.

Definisi alternative dari EVA adalah sebagai berikut :

modal yang diinvestasikan (IC)t-1

pengembalian modal yg ditanamkan (PPMI)t

biaya modal tertimbang rata-rata (kwacc)

 

EVAt =                                        –                                        x

 

 

 

Pada format alternative ini, perusahaan hanya menciptakan nilai ketika ia mendapatkan tingkat/tarif pengembalian modal yang ditanamkan lebih tinggi dari biaya modal perusahaan. Jika perbedaan ini positif, makan EVA juga akan positif.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa dengan mengelola pemicu nilai yang diidentifikasikan dengan analisis EVA, maka perusahaan dapat membuat nilai pemegang saham.

 

ANALISIS DAN DAMPAK LEVERAGE

 

         I.      Analisis Titik Impas

                  Tujuan analisis titik impas adalah untuk menentukan kuantitas output pada posisi titik impas dengan mempelajari hubungan antara struktur biaya perusahaan, volume output, dan laba.

                              *         kuantitas output pada titik impas  menghasilkan tingkat EBIT sama dengan nol.

                              Mencari titik impas

                              *         Model titik impas hanyalah adaptasi dari laporan laba rugi perusahaan yang dinyatakan sebagai berikut :

                                          sales – (total variable costs + total fixed costs) = profit

                              *         Tiga cara untuk mencari titik impas dijelaskan sebagai berikut :

                                          –           trial and error

                                                      #         pilih tingkat pengeluaran yang berubah-ubah

                                                      #         hitung jumlah EBIT yang bersangkutan

                                                      #         ketika EBIT sama dengan nol, titik impas telah ditemukan.

                                          –           Contribution margin analysis (analisis batas kontribusi)

                                                      #         Harga jual per unit – biaya variabel per unit = batas kontribusi

                                                      #         Biaya tetap dibagi dengan batas kontribusi sama dengan titik impas dalam unit.

                                          –           Algebraic analysis (analisis aljabar)

                                    #     QB       =     titik impas dari unit yang terjual,

                                            P         =     harga jual per unit,

                                    F          =     biaya tetap total untuk periode yang bersangkutan,

                                            V         =     biaya variable per unit.

                                    #     Kemudian,

QB  = 

      II.      Operating Leverage

            Operating leverage             adalah tingkat respons EBIT perusahaan terhadap fluktuasi penjualan. Operating leverage timbul dari penggunaan biaya tetap operasi.

            Tingkat respon tersebut dapat diukur sebagai berikut :

  =  DOLs   = 

 

            Jika biaya per unit dapat diketahui, nilai DOL dapat diukur sebagai berikut :

DOLs  =  

            Jika hanya tersedia laporan laba-rugi analitik untuk periode dasar saja, digunakan rumus berikut :

DOLs   =      =  

 

                    Catatan : tiga rumus di atas menghasilkan nilai yang sama

            Implikasi operating leverage

                    *     Ketika skala operasi perusahaan bergerak ke arah yang disukai di atas titik impas, tingkat operating leverage pada setiap penjualan dasar (yang lebih tinggi) akan menurun.

                    *     Pada titik penjualan di titik impas, tingkat operating leverage tidak dapat didefinisikan, karena angka penyebut untuk untuk setiap perhitungan adalah nol.

                    *     Operating leverage baru ada jika persentase perubahan pada EBIT dibagi dengan persentase perubahan pada penjuala lebih besar dari 1.

                    *     Tingkat operating leverage menggambarkan risiko bisnis yang dihadapi perusahaan.

 

    III.      Financial Leverage

            Tujuan pembelajaran : menghitung tingkat operating leverage, financial leverage, dan combined leverage.

            A.    Untuk melihat apakah financial leverage telah digunakan untuk menguntungkan pemegang saham, akan difokuskan pada tingkat respon laba per lembar saham perusahaan (EPS) terhadap perubahan EBIT-nya.

            B.    Perusahaan menggunakan financial leverage dan menghadapkan pemiliknya pada risiko keuangan apabila situasi ini terjadi :

   > 1

           

            C.    Pengukuran penggunaan financial leverage suatu perusahaan yaitu sebagai berikut :

  =  DFLEBIT    = 

                   

                    #     tingkat financial leverage dapat menghasilkan arah positif atau negatif.

                    #     semakin besar DFL (degree of financial leverage), semakin tingi fluktuasi pada EPS (laba per lebar saham).

            D.    Cara yang lebih mudah untuk menghitung financial leverage adalah :

DFLEBIT   =  

 

                    dimana I adalah jumlah seluruh biaya pendanaan tetap.

 

    IV.      Kombinasi operating dan financial leverage

            Tujuan pembelajaran : menjelaskan mengapa perusahaan yang menghadapi risiko bisnis yang tinggi secara logis mungkin memilih untuk menggunakan tingkat leverage yang rendah pada struktur keuangannya.

            A.    Perubahan pada pendapatan penjualan menyebabkan perubahan yang lebih besar pada EBIT. Perubahan EBIT akan diterjemahkan ke dalam variasi laba per lebar saham (EPS) dan laba yang tersedia bagi pemegang saham (EAC) yang lebih besar apabila perusahaan memilih untuk menggunakan financial leverage.

            B.    Salah satu cara untuk mengukur combined leverage dapat dinyatakan sebagai berikut :

=   DCLs   =  

                   

                    Jika DCL sama dengan 5 kali, maka perubahan sebesar 1 % pada penjualan akan mengakibatkan perubahan sebesar 5 % pada EPS.

            C.    Tingkat combined leverage  merupakan perkalian dari dua ukuran leverage yang independen. Maka :

DCLS   =  (DOLS )  x  (DFLEBIT)

 

            D.    Cara lain untuk menghitung DCLS adalah dengan persamaan sebagai berikut :

DCLs   = 

 

            E.    Implikasi dari kombinasi operating dan financial leverage

                    *     Total risiko yang dihadapi perusahaan dapat dikelola dengan mengkombinasikan operating dan financial leverage pada tingkat yang berbeda-beda.

                    *     Pengetahuan tentang berbagai ukuran leverage membantu manajer keuangan menentukan tingkat risiko menyeluruh yang tepat yang seharusnya diterima.                  

 

BAB 17 KEBIJAKAN DIVIDEN DAN PEMBIAYAAN INTERNAL

Pilihan Perusahaan adalah untuk membayar atau tidak membayar dividen kas kepada pemegang saham dan pilihan lebih lanjut untuk menambah dividen,mengurangi dividen ataupun menjaganya pada jumlah yang sama merupakan salah satu bidang yang menantang dan membingungkan dari kebijakan keuangan perusahaan.

Pembayaran Dividen vs Penahanan Keuntungan

Kebijakan Dividen Perusahaan meliputi 2 komponen dasar meliputi :

  • Rasio pembayaran dividen menunjukkan jumlah dividen yang dibayarkan relatif terhadap pendapatan perusahaan. Contoh : Rasio Pembayaran 50% Jika Dividen per saham $2 dan Pendapatan per saham $4 ($2 : $4).
  • Stabilitas Dividen sepanjang Waktu.

Dalam memformulasikan kebijakan dividen, manajemen dihadapkan pada pola pertukaran-pertukaran (trade-offs) yaitu :

  1. Jika Dividen besar, maka Penyimpanan Keuntungan Rendah dan Pembiayaan Ekuitas eksternal sangat dibutuhkan (contoh : Penerbitan saham baru).
  2. Jika Dividen kecil, maka Penyimpanan Keuntungan Tinggi dan Pembiayaan Ekuitas eksternal tidak berarti.

 

Tiga pandangan Dasar  mengenai dividen dan nilai saham:

  1. 1.        Kebijakan Dividen adalah Tidak Relevan

Posisi yang menyatakan bahwa dividen tidak penting berakar pada :

  • Keputusan investasi dan pinjaman telah dibuat, dan keputusan ini tidak akan berubah dengan jumlah pembayaran dividen.
  • Pasar modal “sempurna” diasumsikan ada, yaitu bahwa :
  1. Investor dapat membeli dan menjual saham tanpa terjadinya biaya transaksi, seperti komisi pialang.
  2. Perusahaan dapat menerbitkan saham tanpa biaya apapun.
  3. Tidak ada pajak perusahaan.
  4. Informasi lengkap mengenai perusahaan tersedia.
  5. Tidak ada konflik kepentingan antara manajemen dengan Pemegang saham.
  6. Biaya kesulitan keuangan dan kebangkrutan tidak ada.

Dengan dua asumsi diatas maka tidak ada hubungan antara kebijakan dividen dengan nilai saham. Secara agregat, investor hanya mementingkan pengembalian total dari keputusan investasi, mereka tidak peduli apakah pengembalian ini datang dari perolehan modal atau pendapatan dividen. Jadi apapun kebijakan ”trade-offs” yang dipilih, tidak akan mempengaruhi keputusan investor.

Pembayaran dividen oleh perusahaan dapat mempengaruhi harga saham, hanya jika pemegang saham tidak lagi memiliki jalan lain untuk menerima pendapatan dari investasi kecuali dari dividen. Tetapi dengan mengasumsikan pasar modal relatif efesien, pemegang saham yang membutuhkan pendapatan lancer selalu dapat menjual saham.

  1. 2.        Dividen yang Tinggi, meningkatkan Nilai Saham

Kepercayaan bahwa kebijakan dividen meningkatkan nilai saham adalah diasumsikan bahwa investor mengharapkan tingkat pengembalian yang diharapkan apakah itu melalui perolehan modal ataukah melalui dividen. Tetapi dividen lebih bisa diramalkan daripada perolehan modal. Manajemen dapat mengontrol dividen tetapi tidak dapat mendikte harga saham.

Oleh karena tingkat kepastian dividen lebih tinggi daripada perolehan modal, maka diyakini bahwa dividen yang tinggi dapat meningkatkan nilai saham.

  1. 3.        Dividen yang rendah, meningkatkan Nilai Saham

Pandangan yang ketiga menitikberatkan pada perlakuan pajak atas pendapatan dividen dan perolehan modal. Dalam hal pajak, investor ingin memaksimumkan pengembalian setelah pajak, bukannya pengembalian sebelum pajak. Investor mencoba menunda pajak saat dimungkinkan. Ini menyebabkan kebijakan membayar dividen rendah akan mengakibatkan harga saham yang lebih tinggi. Artinya dividen tinggi merugikan investor, sementara dividen rendah dan retensi tinggi membantu investor. Inilah logika yang mendasari kebijakan dividen rendah.

Kebijakan Dividen

  1. Ratio pembayaran dividen secara konstan.

Kebijakan pembayaran dividen yang mana dalam persentasi penghasilan dibayarkan dalam dividen dipertahankan konstan. Jumlah dolar berfluktuasi dari tahun ke tahun sesuai perubahan keuntungan.

  1. Pembayaran dolar dividen pe saham yang stabil.

Kebijakan dividen yang mempertahankan dividen dolar per saham yang relative stabil selama selang waktu.

  1. Pembayaran dividen yang kecil dan teratur plus dividen ekstra akhir tahun.

Kebijakan pembayaran dividen yang mana perusahaan membayar dividen regular dalam jumlah kecil ditambah ekstra dividen jika perusahaan mengalami tahun yang baik.

 

DIVIDEN SAHAM DAN PEMECAHAN SAHAM

Kebijakan penggunaan dividen saham dan pemecahan saham adalah berupa mengeluarkan lembar saham baru berdasar pro rata kepada pemegang saham sekarang, labanya dan resiko yang ditanggung dan persentase kepemilikan investor dalam dalam perusahaan tidaklah berubah.

Dividen Saham versus Pemecahan Saham

Dividen saham : pembagian saham tambahan dari perusahaan itu sendiri kepada pemegang saham.

Contoh : Katie Corporation mengumumkan dividen saham saham 20% yang berarti pemegang saham yang memiliki 10 lembar saham akan menerima tambahan 2 lembar saham

Stock split (pemecahan saham) : perusahaan melakukan pecah saham dengan cara mengurangi nilai nominal atau nilai yang dinyatakan per lembar saham dan secara proporsional menambah jumlah saham yang beredar.

Contoh : Katie Corporation memiliki 1.000.000 lembar saham dengan nilai nominal $ 3 memecah saham dengan dasar 3 untuk 1, berarti sekarang perusahaan memiliki 3.000.000 lembar saham yang beredar dengan nilai nominal $ 1.

Perbedaan antara dividen saham dan pemecahan saham hanyalah terkait pada perlakuan akuntansi. Tidak adanya perbedaan absolut atas basis ekonomis antara dividen saham dan pemecahan saham.


 [A1](1+i)n disebut (FVIFi,n) atau future value interest factor

 [A2] [A2]

 [A3]ini disebut (FVIFAi,n) sehingga rumus dapat ditulis  FVn=PMT(FVIFAi,n)

 [A4]ini disebut (PVIFAi,n) atau present value interest factor for an annuity. sehingga rumusnya dapat ditulis menjadi PV=PMT(PVIFAi,n)

From → Manajemen

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: